PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT HEALTH EDU-PRENEURSHIP MELALUI PEMBUATAN SABUN KECANTIKAN BERBASIS POTENSI LOKAL

  • Rina Hidayati Pratiwi Unindra
  • Endang Sulistyaniningsih Unindra
Keywords: health edu-preneurship; ibu-ibu PKK; sabun kesehatan dan kecantikan

Abstract

Usaha health and wellness merupakan salah satu usaha bidang kesehatan yang telah menjadi bagian dari salah satu kegiatan kewirausahaan sehingga membutuhkan pengembangan dalam menghadapi persaingan regional maupun dunia. Tujuan pemberian pendidikan kesehatan masyarakat health edu-preneurship ialah untuk memberikan dan mengembangkan skill dan kemampuan kewirausahaan bagi masyarakat, khususnya para ibu-ibu PKK di bidang pengembangan produk kesehatan. Implementasi dari pelatihan health edu-preneurship ialah supaya ibu-ibu PKK memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan kewirausahaan dalam bidang kesehatan di lingkungannya. Pelaksanaan pelatihan health edu-preneurship dilaksanakan sebanyak tiga kali tatap muka. Pelatihan berlangsung selama 8 jam untuk sekali tatap muka, bertempat di desa Rawageni, kelurahan Ratujaya, kecamatan Cipayung, Depok. Materi yang diberikan ialah teori dan praktek tentang pembuatan sabun kesehatan dan kecantikan serta jiwa entrepreneurship. Bahan dasar yang digunakan pada pembuatan sabun kesehatan dan kecantikan ialah NaOH, asam stearat, alkohol, dan gliserin serta bahan alami produk lokal yang ditambahkan. Pada akhir tatap muka, tim pelaksana pelatihan mengadakan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian pelatihan peserta. Berdasarkan hasil evaluasi dari 30 peserta, maka dapat dinyatakan bahwa ada 20 peserta dikategorikan memiliki keterampilan dan keaktifan yang sangat baik. Mereka juga aktif memberikan ide penambahan bahan produk lokal yang banyak terdapat di daerahnya untuk dicampurkan di pembuatan sabun kesehatan.

References

Agustina, L., Yulianti, M., Shoviantari, F., & Sabban, I. F. (2017). Formulasi dan Evaluasi Sabun Mandi Cair dengan Ekstrak Tomat ( Solanum lycopersicum L .) sebagai Antioksidan. Jurnal Wiyata, 4(2), 104–110.

Arlofa, N. (2015). Uji Kandungan Senyawa Fitokimia Kulit Durian sebagai Bahan Aktif Pembuatan Sabun. Chemtech, 1(1), 18–22.

Barre, Ken de la. et all. (2005). A Feasibility Study for a Yukon Pariwisata health and Wellness Industry. North to Knowledge, Learning Travel Product Club, and The Department of Tourism and Culture, Yukon Territorial Government.

Brewer, M.S., (2011). Comprehensive review in food science and food safety. Institute of food technologists. Isuue 4 Version og record online 14 Juni 2011. Doi : 10.1111/j.1541-4337.2011.00156x.

Green, G. A. (2008). Review: antioxidant supplements do not reduce all-cause mortality in

primary or secondary prevention. Evidence-Based Medicine, 13 (6): 177,

doi:10.1136/ebm.13.6.177).

Jongko. (2009). Sabun Kecantikan: Teori dan Praktek Membuat Sabun Beauty di Rumah. Jakarta.

Prihanto, A., & Irawan, B. (2018). Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas Menjadi Sabun Mandi. Metana, 14(2), 55–59.

Raisa, A., Srikandi, S., & Hutagaol, R. P. (2016). Optimasi Penambahan Madu Sebagai Zat Anti Bakteri Staphylococcus aureus , PADA PRODUK SABUN MANDI CAIR. Sains Natural Universitas Nusa Bangsa, 6(2), 52–63.

Sukawaty, Y., Warnida, H., & Artha, A. V. (2016). Formulasi Sediaan Sabun Mandi Padat Ekstrak Etanol Umbi Bawang Tiwai ( Eleutherine bulbosa ( Mill .) Urb .). Media Farmasi, 13(1), 14–22.

Susilawaty, A., Ibrahim, H., & Ugi, N. T. (2017). Pemanfaatan Minyak Jelantah dengan Tambahan Ekstrak Daun Cengkeh ( Zyzygium aromaticum ) Sebagai Sabun Antiseptik dalam Menurukan Jumlah Kuman pada Telapak Tangan. Higiene, 3(1), 15–21.

Published
2020-07-09